Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Angka Stunting di Indonesia 24,4%, BKKBN: Melebihi Standar WHO

Mata Kau !!! { กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยามหาดิลก ภพนพรัตน์ราชธานีบุรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์ มหาสถานอมรพิมาน อวตารสถิต สักกะทัตติยะ วิษณุกรรมประสิทธิ์}
1 Mar 2022, 16:56 WIB Last Updated 2022-03-01T09:58:11Z

 


www.korantalk.com -Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebut angka stunting di Indonesia masih mencapai 24,4 persen. Angka ini masih berada di atas standar yang ditetapkan oleh WHO yaitu 20 persen.
Hasto Wardoyo mengatakan berdasar hasil survei, angka stunting di Indonesia mengalami penurunan tapi masih 24,4 persen dari keseluruhan jumlah balita 23 juta anak.

"Data berdasar survei 24,4 persen. Jumlah balita 23 juta lebih sedikit. Jadi masih 6,1 jutaan. Standar WHO 20 persen," kata Hasto di sela acara Rencana Aksi Nasional percepatan penurunan stunting (Ran Pasti) yang digelar di Hotel Po Semarang, Selasa (1/3/2022).

"Target sesuai ditetapkan bapak Presiden 14 persen sampai masa jabatan selesai," imbuhnya.


www.korantalk.com -Salah satu langkah yang dilakukan saat ini yaitu terus melakukan sosialisasi ke masyarakat. Selain itu juga melakukan perbaikan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

"Akan perbaiki e-PPBGM tadi. Pencatatan pelaporan yang didapat dari posyandu," tegasnya.

Dalam acara itu Hasto juga menjelaskan Jawa Tengah menjadi provinsi yang daerahnya tidak ada warna merah dalam indikator jumlah hindering. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, customized structure Hasto, masih ada 19 daerah di Jawa Tengah yang masuk kategori kuning atau prevalensi 20 sampai 30 persen.

Kemudian 15 kabupaten/kota lainnya berkategori hijau dengan prevalensi di kisaran 10 hingga 20 persen. Di Jateng juga ada satu daerah yang masuk kategori biru karena ada di 9,6 persen yaitu Kabupaten Grobogan.

Namun masih ada perbedaan information dari pusat dan daerah. Contohnya Kota Semarang, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau Hendi mengungkap ada 1.367 anak yang mengalami hindering, atau 3,1 persen dari absolute balita 44.058 anak. Namun di information pusat tercatat 21,3 persen.

"Information masih jadi persoalan rumit. Kalau 1.367 dari usia balita itu 3,21 persen. Kemenkes kok 21 persen," customized structure Hendi.

Meski demikian, Hendi menyebut upaya mengatasi hindering terus dilakukan. Ia menyebut banyak ibu yang belum paham soal gizi untuk anak. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi. Selain itu juga pemerintah melakukan pemberian makanan bergizi sehari tiga kali selama 3 bulan.

"Kita membagikan makanan gizi sehari 3 kali selama 3 bulan dan pemberian susu termasuk nutrient lewat program Dinkes. Kalau angkanya hari ini sangat menakutkan tapi saya yakin tahun depan sudah bisa turun sangat drastis," pungkasnya.

iklan