Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Saksi Persidangan Johnny Plate Ungkap Aliran Rp 60 Meter buat Selesaikan Permasalahan BTS

Call me Einstein
3 Okt 2023, 14:31 WIB Last Updated 2023-10-03T07:30:59Z

 Jakarta-Korantalk.info Komisaris PT Solitech Media Sinergy Irwan Hermawan kembali blak- blakan dikala jadi saksi di persidangan permasalahan dugaan korupsi proyek BTS Kominfo yang merugikan negeri Rp 8 triliun. Irwan mengaku menerima Rp 60 miliyar dari Direktur Utama PT Basis Utama Prima( BUP), Muhammad Yusrizki, buat menuntaskan masalah BTS.


Perihal itu diungkapkan Irwan dikala jadi saksi mahkota, ialah seseorang tersangka yang bersaksi buat tersangka yang lain dalam persidangan lanjutan permasalahan korupsi BTS 4G BAKTI Kominfo di PN Tipikor Jakarta, Selasa( 3/ 10/ 2023). Duduk selaku tersangka dalam persidangan ini yakni mantan Menkominfo Johnny Gram Plate, mantan Dirut Bakti Kominfo Anang Achmad Latif, serta Tenaga Pakar Human Development Universitas Indonesia( Hudev UI) Yohan Suryanto.


BACA JUGA : Hasil Liga Inggris: Mudryk Cetak Gol, Chelsea Gebuk Fulham 2-0


" Duit Rp 60 miliyar dari Yusrizki kepentingannya apa?" tanya jaksa dalam sidang di PN Tipikor Jakarta.


" Aku tidak ketahui, tetapi Pak Yusrizki mengantarkan kepada aku ini dorongan buat donasi pada dikala pendampingan hukum," jawab Irwan.


" Dorongan pendampingan hukum ataupun penyelesaian permasalahan?" tanya jaksa.


" Aku kira sama saja sebab pada dikala itu kita memohon dorongan kepada sebagian pihak," jawab Irwan.


" Aku fokus dahulu dengan Rp 60 miliyar sebab ia mengerjakan paket ini ataupun kepentingan yang lain?" tanya jaksa.


" Aku asumsikan demikian, sebab pada dikala penjajakan dini dari Pak Anang memperkenalkan Pak Yusrizki dengan para konsorsium aku anggap demikian," jawab Irwan.


Irwan berkata duit Rp 60 miliyar itu diambil oleh Direktur PT Multimedia Berdikari Sejahtera, Windi Purnama. Windi berkata duit itu diambil di suatu kantor yang beralamat di Praja Dalam.


Windi pula jadi saksi mahkota di persidangan tersebut. Windi berkata pengambilan duit itu atas perintah Irwan.


" Siapa yang awal kali memohon Kerabat buat mengambil duit ke Yusrizki? Di mana diambil?" tanya jaksa.


" Aku dimohon oleh Kerabat Irwan, dia membagikan secarik kertas terdapat nama Jefry dengan alamat Praja Dalam. Aku mengambil duit ke alamat itu," jawab Windi.


" Kerabat ketemu dengan siapa?" tanya jaksa.


" Aku tidak ketahui apakah itu Jefry ataupun bukan. Tetapi aku pada dikala hingga di posisi aku bilang ingin ketemu Pak Jefry kemudian aku dimohon buat naik, naik ke lantai 2 udah terdapat orang yang lagi menunggu," kata Windi.


" Berapa kali mengambil duit?" tanya jaksa.


" Aku tidak ingat tepatnya, tetapi sebagian kali," jawab Windi.


Jaksa pula mencecar Yusrizki yang ikut didatangkan selaku saksi mahkota. Yusrizki mengakui sempat membagikan duit ke Irwan, tetapi kurang ingat perinci jumlahnya.


" Pak Yusrizki semenjak kemarin Kerabat menyangkal atas fakta- fakta ini. Aku ingin tanya, apakah betul yang di informasikan Irwan?" tanya jaksa.


" Aku memanglah membagikan kontak buat membagikan duit tersebut kepada Pak Irwan. Tetapi, rasanya sebagian nama aku kurang ingat sebab tidak hanya satu kali pemberian," jawab Yusrizki.


" Tetapi benar Rp 60 miliyar?" tanya jaksa.


" Benar. Angkanya aku kurang ingat tetapi sebagian kali iya," jawab Yusrizki.


Yusrizki berkata Rp 60 miliyar itu diterimanya dari PT Bintang Komunikasi Utama( BKU). Ia menyebut penerimaan duit itu berasal dari pekerjaan power sistem meliputi baterai serta solar panel dalam proyek pembangunan tower BTS.


" Duit itu dari power sistem dalam pekerjaan proyek BTS?" tanya jaksa.


" Aku tidak ketahui dari mana tetapi aku memohon dibantu oleh BKU," jawab Yusrizki.


" BKU menyerahkan ke Praja Dalam? Bukan- bukan, BKU menyerahkan ke aku," jawab Yusrizki.


" Oh menyerahkan ke Kerabat. Sangat tidak Kerabat mengakui duit Rp 60 miliyar ini buat menuntaskan masalah ya?" tanya jaksa.


" Aku tidak ketahui kepentingannya apa, tetapi aku koreksi kalau aku bukan menawarkan tetapi Pak Irwan mengontak aku buat dibantu sebab terdapat satu keadaan yang wajib dituntaskan," jawab Yusrizki.


Lebih dahulu, Kejaksaan Agung( Kejagung) sempat menggeledah 3 kantor terpaut permasalahan korupsi proyek BTS 4G. Salah satu kantor yang terletak di Jalur Praja, Kebayoran Lama, ialah kantor Don Adam.


" Oh rumah yang di Praja Dalam, betul itu kantor yang bersangkutan ya," kata Direktur Penyidikan( Dirdik) Jampidsus Kejagung, Kuntadi kepada wartawan, Kamis( 13/ 7).


Kantor Don Adam itu bernama PT RMKN. 2 kantornya ialah PT MBS ataupun PT VP di Lingkungan Pergudangan Arkadia Jalan. Daan Mogot, Permai, Blok B, 16, Batu Ceper, Tangerang, Banten serta PT LAM Telesindo Menara, Jalan Gadjah Mada Nomor. 27 A, Lantai 8, Jakarta Selatan.


Pada peluang yang sama, Kepala Pusat Penerangan Hukum( Kapuspenkum) Kejagung Ketut Sumedana menyebut grupnya sudah mengecek 6 saksi di permasalahan ini. Keenam sakti itu tercantum Maqdir Ismail.


" Kita melaksanakan 6 orang, mengecek 6 orang saksi tercantum Pak Maqdir tadi di masalah BTS," ucap Ketut.


Tidak hanya itu, dalam persidangan minggu kemudian, Irwan pula menguak terdapat makelar permasalahan yang menawarkan penghentian penyelidikan permasalahan ini.


Dikala itu, Irwan berkata terdapat pihak yang mengecam Anang Achmad Latif. Irwan menyebut pihak itu pula meminta- minta proyek serta menawarkan buat penyelesaian penyelidikan.


Hakim setelah itu bertanya apakah terdapat orang yang menawarkan buat menutupi permasalahan korupsi BTS tersebut. Irwan juga mengamini perihal itu.


" Maksudnya permasalahan ini kasarnya dapat ditutup? Iya?" tanya hakim.


" Semacam itu. Diawali di bulan Juni ataupun Juli 2022," jawab Irwan.


" Itu telah diselidiki, telah penyelidikan," ucap hakim.


" Bisa jadi dia telah menghadiri pihak Bakti ataupun Kominfo dari lebih dahulu, yang aku dengar tiba serta menawarkan buat penyelesaian," lanjut Irwan.


Hakim bertanya lagi siapa orang yang menawarkan penghentian permasalahan. Irwan menyebut orang itu mengaku selaku pengacara serta dapat menolong menutup permasalahan korupsi BTS Kominfo yang diusut Kejaksaan Agung.


BACA JUGA : Sosok Ibu Bhayangkari Ngamuk karena Anaknya Diimunisasi di Sekolah, Berujung Dirinya Dipolisikan


Irwan mengaku belum sempat berjumpa dengan orang bernama Edward Hutahaean itu. Ia mengaku mengenali nama itu dari Direktur PT Mora Telematika Indonesia Galumbang Menak serta Anang yang pula jadi tersangka dalam permasalahan ini.


Irwan pula berkata duit yang telah diserahkan ke Edward senilai Rp 15 miliyar. Irwan menyebut staf Galumbang bernama Indra yang menolong menyerahkan duit tersebut. 



iklan