Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Ekonomi Thailand Terancam Resesi Gegara Utang Rumah Tangga Tinggi

1 9 2 8
30 Jan 2024, 14:39 WIB Last Updated 2024-01-30T07:39:18Z


 Jakarta, Korantalk -- Thailand terancam resesi karena tingginya tingkat utang rumah tangga. Kondisi bahaya tersebut diungkap Wakil Menteri Keuangan Julapun Amornvivat.


Pemerintah bakal menyebar bansos US$14 miliar atau setara Rp221 triliun (kurs Rp15.820) kepada 50 juta warga untuk mencegah resesi.


"Kalau ditanya, sekarang sudah pada level berbahaya. Semacam resesi ekonomi," kata Amornvivat dikutip Reuters, Senin (29/1)


Selain utang rumah tangga, ancaman resesi juga didorong tingginya beban sektor swasta.


"Sulit untuk mendorong perekonomian maju. Itu sebabnya kita melihat pertumbuhan ekonomi selalu lamban," imbuhnya.


Julapun juga mengatakan Thailand berencana menerbitkan obligasi di luar negeri dalam satu atau dua tahun ke depan dalam dolar AS, yuan China dan yen Jepang untuk menciptakan tolok ukur bagi dunia usaha dalam mengumpulkan dana.


Tingginya utang ini membuat pemerintah menekan Bank Sentral Thailand untuk menurunkan suku bunga acuan.


Amornvivat mengatakan kebijakan suku bunga berada pada tingkat tertinggi dalam satu dekade, sebesar 2,50 persen, harus dipangkas pada kebijakan suku bunga berikutnya, yang diumumkan 7 Februari mendatang.


"Angka tersebut harus diturunkan karena tingginya tarif sekarang menjadi beban masyarakat. Masyarakat tidak dapat bertahan hidup," katanya kepada wartawan.


Perdana Menteri Srettha Thavisin juga mendesak bank sentral untuk menurunkan suku bunga untuk membantu negara dengan perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara itu, yang menurutnya sedang mengalami krisis.


Pekan lalu, Gubernur Bank Sentral Thailand Sethaput Suthiwartnarueput mengatakan pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari perkiraan, namun perekonomian tidak berada dalam krisis.


Sethaput mengatakan kebijakan suku bunga saat ini secara umum netral. Bank sentral pun mempertahankan suku bunga di level 2,50 persen.


Pemerintah memangkas proyeksi pertumbuhan pada 2024 menjadi 2,8 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2 persen. Pemangkasan ini mengacu pada melemahnya ekspor dan menurunnya jumlah wisatawan asing.


iklan